Kamis, 06 Oktober 2016

A DROP OF WATER



A Drop of Water
            Pada siang hari yang terik matahari bersinar tinggi dilangit, mahasiswa-mahasiswi berhamburan keluar kelas dengan raut wajah yang memelas seakan-akan melakukan aktivitas yang sangat melelahkan tidak ada satupun ku lihat senyuman.dan akupun melangkahkan kakiku ke arah pendopo berniat untuk mencari kesejukkan di teriknya matahari, seketika merasakan embusan angin tiba-tiba kudengar suara teriakan yang sudah tidak asing lagi memanggilku kutolehkan kepalaku kearah suara tersebut dan ternyata seseorang yang sangat kukenali berlari kearah ku seolah-olah tidak rela aku pergi jauh dari sisinya.
            Aduh panas banget,pulang lagi yok” ucapnya merusak suasana lamunanku dan akupun hanya diam membisu kembali merasakan sejuknya angin sepoi-sepoi.               kau gak dengarin aku ya git”ucapnya lagi berusaha mengajakku untuk meninggalkan tempat ini,tetapi aku membisu dan tetap duduk di pendopo yang dilindungi pohon hijau menambah kesejukkan angin sepoi-sepoi. “Aku lelah pengen tidur,kita pulang sekarang”katanya sambil mengeluh dan memasang wajah kelelahan. Aku hanya menatapnya tajam bermaksud membuat dia diam tetapi tatapan tajam malah membuatnya semakin mengeluh ingin pulang.
            Siniin kunci motornya,biar aku yang bawa” ucapnya sambil menarik paksa tanganku Dan akhirnya jurusnya ini berhasil membuat aku untuk pergi meninggalkan kesejukan di tempat ini dan kamipun pergi sambil menahan  teriknya matahari yang membakar kulit untungnya saja tempat yang kami tuju tidak jauh dari kampus.                                                            “Panas kaliiii terbakar kulitkuuuuuuu”teriaknya menambah kekesalanku tetapi aku hanya bisa diam mendengarkan keluhannya.                                                                          “Kau kenapa git, kok diam aja dari tadi” Tanyanya penasaran dengan diriku yang daritadi hanya diam.
            Sesampainya di kos kami langsung merebahkan badan di tempat tidur dan kembali meratapi nasib anak kos ditanggal tua begitu sangat menyedihkan kalau sudah memasuki tanggal 20 keatas serasa dunia tidak berpihak kepada kami.                                          Sesekali terdengar hembusan nafas panjang yang membuat suasana menjadi sangat menyedihkan. Kalau sudah di tanggal ini kami hanya bisa manahan selera untuk pergi keluar ya makanpun hanya nasi putih dicampur dengan kecap beginilah keadaan anak kos diakhir bulan.


            Aku beranjak meninggalkan kamar dan bergerak menuju dapur berniat untuk melegakan tenggorokanku akupun mengambil sebuah cangkir dan ternyata kulihat setetes airpun tidak ada tersisa.                                                                                                    “ahhhhhh” Kesalku sambil menghentakan cangkir yang berada ditanganku.                     Dan akupun meninggalkan dapur dengan penuh kekesalan                                                              Kemudian aku terfikir untuk meminta segelas air kepada senior dan aku pun memberanikan diri untuk mengetuk pintunya.

            Tetapi aku berfikir dua kali untuk memintanya karena aku dan senior tidak terlalu dekat, setelah lama berdiri di depan pintu akupun memutuskan untuk meminta kepada mereka                                                                                                             “Tok,Tokk,Tokk”.Kuketuk pintunya dengan rasa segan.                                                       tetapi sangat lama mereka membukakan pintuya kalau tidak berfikir untuk melegakkan tenggorakanku aku tidak ingin merepotkan orang lain tetapi tenggorakan memaksaku tetap mengetuk pintu untuk meminta air minum.
            Setelah pintu terbuka aku melihat wajahnya penuh kesal karena aku telah mengganggu tidurnya.                                                                                                              ”Kak,boleh minta air minumnya?” Dengan penuh rasa segan aku bertanya                                    “Air minum habis, ganggu tidur aja pun!” jawabnya ketus.                                                            Dan setelah itu dia menghempaskan pintu dengan keras, Ingin sekali aku berteriak dan memarahinya tetapi karena rasa segan aku pun hanya mengela nafas dan kembali ke kamarku.
“Kau kenapa dari tadi murung terus kulihat?” tanya anne penasaran.                                  “Aku haus air minum kita habis”jawabku singkat.                                                               Diapun hanya terdiam karena memang bulan ini keadaan kami sangat memilukan.                “Kau punya duit lagi gak?”Tanyaku dengan pasrah.                                                                      “Aduh gak ada lagi duitku loh,tapi ditabunganku ada kayanya receh,tunggu kulihat dulu”Ucapnya sambil bangkit dari tempat tidur.                                                                    Diapun mengambil celengan kaleng yang berada diatas lemari dan mulai membongkarnya kamipun mulai menghitung recehan yang ada di celengan.
            Terkumpullah uang untuk membeli sebotol air mineral, kamipun bergegas ke warung untuk membeli AQUA dan sesaampainya di warung dengan semangat kami mengambil AQUA tanpa  berfikir panjang langsung meminumnya  lega sudah tenggorokan ini dan kamipun langsung kekasir untuk membayar.                                                                              Tiba-tiba suara rintik hujan jatuh dari langit dan aku langsung berjalan meninggalkan warung melihat air hujan sangat deras.                                                                                              “Yahhhh, kayak mana mau pulang ini”Ucapku penuh kesal
            Annepun hanya terdiam melihat hujan sangat deras                                                   “Aku pun tidak tahu”Jawabnya pasrah                                                                                       Kenapa harus sesial ini kami ucapku dalam hati, kami berdiri seperti orang bodoh menunggu hujan, Ingin rasanya teriak meluapkan segala kekesalanku tetapi sangat banyak orang sehingga aku hanya berteriak dalam hati                                                                                      “Lama kali hujannya reda”Ucap seseorang yang juga sedang menunggu hujan.                       Anne mengajak pulang dan menerobos hujan itu.                                                        Seketika sampai dirumah, kami pun mulai tertawa karna hari yang begitu menyedihkan ini.



                                                                                               

           
           


Tidak ada komentar:

Posting Komentar