Leksikologi
Menurut Dr. Ali Al-Qasimy, leksikologi adalah:
"Leksikologi atau ilmu kosakata
adalah ilmu yang membahas tentang kosakata dan maknanya dalam sebuah bahasa
atau beberapa bahasa. Ilmu ini memperioritaskan kajiannya dalam hal derivasi
kata, struktur kata, makna kosakata, idiom-idiom, sinonim dan polisemi."
Ali
Al-Qasimy tidak membedakan antara istilah ilmu leksikologi (Ilm Al-M'ajim)
dan ilmu kosakata (Ilm Al-Mufradat). Menurutnya, kajian kedua bidang
studi tersebut adalah sama. Dengan kata lain, ilmu leksikologi merupakan perluasan dari ilmu mufradat yang bertujuan untuk
menganalisis kosakata, memahami dan menafsirkan makna kata hingga ke tahap
merumuskan makna kosakata yang baru dan fushah dan layak dimasukkan ke dalam
kamus. Makna sebuah kata yang telah tercantum dalam kamus disebut dengan 'makna
leksikon'. Sedangkan Leksikografi
(Dirasah Mu'jamiyah) adalah pengetahuan dan seni menyusun kamus-kamus
bahasa dengan menggunakan sistematika tertentu untuk menghasilkan produk kamus
yang berkualitas, mudah dan lengkap.
Secara
teknis, Ali Al-Qasimy menjelaskan, bahwa leksikografi adalah ilmu yang membahas tentang lima langkah utama
dalam menyusun sebuah kamus, yaitu:
1.
Mengumpulkan data (kosakata)
2.
Memilih pendekatan dan metode
penyusunan kamus yang akan ditempuh
3.
Menyusun kata sesuai dengan
sistematika tertentu
4.
Menulis materi, dan
5.
Mempublikasikan hasil kodifikasi
bahasa atau kamus tersebut
“Kajian teoritis tentang makna
leksikal dalam sebuah kamus yang bahassannya meliputi: karakteristik kosakata,
komponennya, perkembangan maknanya dan lain sebagainya.”
Karena
itu, leksikologi terkadang juga digolongkan sebagai bagian dari ilmu semantik (Ilm
Al-Dilalah) karena memang topok kajian dari kedua bidang studi tersebut
hampir sama. Hanya saja, cakupan leksikologi lebih terbatas pada perwajahan
kamus dan hal-hal yang berhubungan dengan isi kandungan kamus. Sedangkan leksikografi (Ilm Al-Shina;ah
Al-Mu'jamiyah) adalah bagian dari linguistik terapan (Ilm Al-Mughah
Al-Tathbiqy) yang membahas tentang seni dan teknik menyusun kamus,
pemilihan kata serapan (dakhil), penentian definisi kata, bahasan
tentang kelengkapan komponen kamus, dan informasi lain yang fungsinya memberi
pemahaman yang benar dan udah tentang makna kosakata kepada pengguna kamus,
seperti pemakaian gambar, peta, tabel, contoh penggunaan kata dalam kalimat dan
sebagainya, sehingga perwajahan (performance) kamus menjadi lengkap dan
sempurna.
Antara leksikologi dan
leksikografi tidak bisa dipisahkan. Leksikologi
tanpa leksikografi, tidak akan menghasilkan sebuah produk kamus yang baik,
benar dan mudah dimanfaatkan oleh para pengguna bahasa. Sebaliknya,
leksikografi tanpa leksikologim juga hanya dapat melahirkan kamus-kamus yang
tidak sempurna dalam mengungkap makna kosakata. Akan tetapi, ilmu leksikografi
sebagai bagian dari linguistik terapan, lebih memerlukan hasil-hasil kajian
atau penelitian dari ilmu leksikologi dalam upaya mewujudkan kamus yang baik,
benar, lengkap dan memudahkan pembaca. Karena itu, istilah 'ilmu
leksikologi' lebih umum daripada 'ilmu leksikografi'. Menyebut 'leksikologi'
berarti berhubungan dan mencakup 'leksikografi'.
Munculnya
pembedaan antara leksikologi dan
leksikografi, tidak lepas dari pandangan para
pakar linguistik yang telah membagi ilmu linguistik menjadi dua bagian, yaitu
ilmu linguistik murni dan ilmu linnguistik terapan. Adanya pembagian ilmu
linguistik ini, Jelas berpengaruh dalam memisahkan antara leksikologi dan
leksikografi.
Dengan demikian, baik ilmu
leksikologi maupun ilmu leksikografi, keduanya adalah bagian dari ilmu linguistik. leksikologi, sebagai
studi pengembangan dari ilmu semantik, menjadi bagian dari ilmu linguistik
teoritis (Ilm Al-Lughah Al-Nadzary). Sedangkan leksikografi, sebagai
studi pengembangan dari leksikologi, menjadi bagian dari linguistik terapan (Ilm
Al-Lughah Al-Tathbiqy).
Linguistik, sebagai ilmu pengetahuan memerlukan teori-teori yang
konsekuwen, teori linguistik. Bila seorang ahli linguistik memusatkan
perhatiannya khusus pada pendirian suatu teori, maka apa yang dikerjakannya
boleh disebut linguistik teoritis. Banyak ahli linguistik bekerja dengan cara
itu dengan mempertanggungjawabkan data dan bahan yang memperkuat teorinya.
Misalnya, bila ia memberi uraian tentang rumpun bahasa semit, berarti ia pun
telah siap dengan materi yang memuat kajian sistem bunyi, tatabahasa, dan
sebagainya tentang bahasa-bahasa semit. Linguistik semacam ini disebut dengan
linguistik teoritis.
Akan
tetapi, linguistik dapat juga dimanfaatkan untuk memecahkan masalah prektis di
luar linguistik itu sendiri. Misalnya, bagaimana mencari solusi kesulitan
belajar bahasa Arab? Kesulitan itu sebagian tidak menyangkut bahasa, tetapi hal
lain di luar bahasa seperti usia siswa, motivasi belajar, teknik pembelajaran
dan sebagainya. Masalah semacam ini jelas termasuk ke dalam psikologi belajar,
psikologi perkembangan dan paedagogik. Di pihak lain, ilmu linguistik pun dapat
dipakai untuk memudahkan persoalan-persoalan tadi. Itu artinya, linguistik
menjadi linguistik terapan, ilmu linguistik dan teori linguistik dikerjakan
bukan demi teori itu sendiri, melainkan hanya sejauh menolong mengatasi
masalah-masalah tadi. Jadi, linguistik terapan hanya berguna sejauh dapat
memecahkan masalah praktis.
Buku Leksikologi Bahasa Arab, H.R.
Taufiqurrochman, M.A.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar